Breaking News

Memperkenalkan Taekwondo kepada Anak Sekolah Alam

Oleh: Evi Susianti, S.Pd.,M.Pd
(Penulis merupakan Mahasiswi Program Doktoral Penjas PPS-UNJ)

Di Indonesia, olahraga beladiri taekwondo telah dikenal dan menjadi milik semua lapisan masyarakat.  Fenomena ini terlihat dari banyaknya masyarakat dari berbagai tingkat stratifikasi sosial yang berlatih taekwondo.

Taekwondo adalah seni beladiri dari Korea yang asal mulanya seni beladiri primitive yang bernama taek-kyon; untuk berperang dan hasilnya mereka selalu sukses dalam setiap pertempuran.  Waktu itu taek-kyon masih menggunakan kaki saja.  Setelah kemerdekaan Korea pada tahun 1945, kemudian orang Korea melakukan penelitian mengenai seni beladiri dan selanjutnya tersusunlah teknik-teknik taekwondo seperti yang digunakan selama ini.

Taekwondo menurut terminology dalam bahasa Korea berasal dari tae= kaki, kwon= tangan, dan do=seni, dengan demikian taekwondo adalah seni beladiri yang menggabungkan teknik-teknik kaki dan tangan. Seperti halnya olahraga beladiri pada umumnya maka taekwondo pun memiliki kemiripan konsep dalam penerapan teknik dan kedua unsur tersebut.

Meskipun taekwondo merupakan seni beladiri yang menggunakan tangan dan kaki, tetapi taekwondo lebih dikenal dengan tendangannya yang beraneka ragam dan secara luas telah diakui kelebihan-kelebihannya.

Masing-masing tendangan dalam taekwondo memiliki maksud dan tujuan yang berbeda-beda, oleh karena itu setiap pelatih taekwondo (sabeum) harus menjelaskan kepada siswanya (jeja) selama latihan.  Sebagai cabang olahraga full body contact (penuh dengan kontak tubuh), taekwondo mengajarkan pukulan dan tendangan sebagai upaya mengatasi serangan dari pihak lain.  Pukulan dan tendangan sebagai suatu keterampilan yang harus dikuasai oleh para taekwondoin dengan baik.

Sekolah dengan metode alam adalah bentuk pendidikan alternative yang menggunakan alam sebagai media utama pembelajaran anak didik. Disini, anak belajar dari semua makhluk yang ada di alam semesta.

Dalam konsep pendidikan sekolah alam, terdapat 3 konsep fungsi, yakni alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media dan bahan mengajar, dan alam sebagai objek pembelajaran.

Adapun ciri khas sekolah, adalah
  1. Anak didik lebih banyak belajar di alam terbuka
  2. Metode belajar mengajar lebih banyak menggunakan metode action learning, yaitu anak belajar melalui pengalaman. Jika mengalaminya secara langsung, ia akan belajar lebih bersemangat, tidak bosa, dan lebih aktif.
  3. Menggunakan alam sebagai media belajar bertujuan agar murid lebih peduli dengan lingkungan pengetahuan yang dipelajari.

Sebagai individu yang sedang berkembang, anak-anak memiliki sifat suka meniru. Ingin mencoba sesuatu, bermain, bergerak. Sama halnya dengan anak-anak TK di Sekolah Alam Rumah Cahaya yang berlokasi di Perum Metland Cibitung, Cluster Sunda Kelapa, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pembelajaran di sekolah alam banyak dilaksanakan di ruangan terbuka, dengan memanfaatkan potensi yang ada di dalam lingkungan sekolah.


Sekolah Alam Rumah Cahaya
Dalam masa perkembangan anak TK ini, akan sangat mengalami perkembangan yang luar biasa, dimulai dari perkembangan berfikir, emosi, motorik, fisik, serta sosial. Orang Tua harus selalu memonitor setiap perubahan yang terjadi pada anak.

Pada kesempatan menjadi guru tamu disekolah ini, penulis untuk pertama kali memperkenalkan olahraga Taekwondo, tidak lupa memberikan contoh pemanasan dengan menggunakan gerakan yang mudah diikuti oleh anak. Melatih Taekwondo dengan cara yang menyenangkan membuat anak-anak ini sigap dalam mempraktekkan tehnik-tehnik dasar Taekwondo.


Sesi Latihan Taekwondo
Melihat anak-anak tersenyum dan bergerak aktif merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis, ada perasaan bangga kepada anak-anak penerus bangsa ini ketika  sesi latihan selesai mengatakan bahwa mereka latihan Taekwondo karena ingin menegakkan keadilan, dan menolong orang-orang susah. Luar Biasa sekali ungkapan perasaan anak TK ini.

Terobosan yang dilakukan Oleh Kepala Sekolah dan Para guru TK Rumah Cahaya ini pantas diacungi Jempol, Karena setiap bulannya selalu menghadirkan guru tamu untuk berbagi pengalaman kepada anak-anak.

Penulis adalah walimurid Sekolah Alam Rumah Cahaya, Dosen Tetap Prodi PJKR Universitas Singaperbangsa Karawang, Mahasiswa Pascasarjana Program Doktoral Universitas Negeri Jakarta. (*)

Tidak ada komentar